makalah amtsalul qur’an

                                                                                                                                BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.Latar Belakang

Hakikat-hakikat yang tinggi makna dan tujuannya akan lebih menarik jika dituangkan dalam kerangka ucapan yang baik dan mendekatkan pada pemahaman, Tamsil (membuat pemisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap dalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang kongkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah, menarik dan mempesona oleh tamsil. Karena itulah makna tamsil lebih dapat mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas dengannya. Dan tamsil adalah salah satu uslub al- qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatannya. Diantara para ulama ada sejumlah orang menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas perumpamaan-perumpamaan (amtsal) dalam qur’an, dan ada pula yang hanya membuat satu bab mengenainya dalam salah satu kitabnya-kitabnya. Bila kita meneliti amtsal dalam qur’an yang mengandung penyerupaan sesuatu dengan hal serupa lainnya dan penyamaan antara keduanya dalam hukum, Allah SWT. mengemukakakan dalam al-Quran yang mulia, bahwa Dia membuat sejumlah amtsal, contoh :

öqs9 $uZø9t“Rr& #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# 4’n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd‰|ÁtF•B ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!$# 4 šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ΎôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ

Artinya ; ” kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr ; 21)

šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $ygç/ΎôØnS Ĩ$¨Z=Ï9 ( $tBur !$ygè=É)÷ètƒ žwÎ) tbqßJÎ=»yèø9$#

Artinya ; ”Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia ; dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang- orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut ; 43)

B. Rumusan masalah

Dari latar belakang diatas,maka kami menyimpulkan beberapa masalah :

  • Ø Apa itu amtsalul qur’an ?
  • Ø Ada berapa macam amtsalul qur’an ?
  • Ø Apa faedah mempelajari amtsalul qur’an ?

C. Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing “ ULUMUL QUR’AN “ , menganalisa tentang ilmu amtsalul qur’an, dan pastinya unutuk menambah ilmu pengetahuan bagi penulis dan juga kepada para pembaca, teman – teman mahasiswa (i) sekalian tentang ilmu amtsalul qur’an.

                                                                                                                                BAB II 

                                                                                                                      PEMBAHASAN 

A.Pengertian Amtsal

Secara bahasa amtsal berasal dari bahasa arab “ﻣثل ”  yang artinya perumpamaan. Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu :

  • Menurut istilah ulama ahli adab, amtsal adalah ucapan yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju
  • Menurut istilah ulama ahli bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya, karena adanya persamaan yang dalam ilmu mantiq disebut tasybih
  • Menurut ulama ahli tafsir, amtsal adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat, dan menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal.

Dalam sastra “ ﻣﺜﻞ” adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah popular dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu diucapkan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu, dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu, misalnya : رمية من غيررم بر (betapa banyak lemparan panah yang mengena tanpa sengaja), artinya ; betapa banyak lemparan panah yang mengenai sasaran itu dilakukan seseorang pelempar yang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang yang mengucapkan masal ini adalah al-Hakam bin Yagus an-Nagri. Masal ini beliau katakan kepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar inilah, masal harus mempunyai maurid (sumber) yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan. Secara garis besarnya, Amtsal adalah menonjolkan makna dalam bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas.

Orang pertama yang menyusun ilmu amtsal ialah syaikh Abdurrahman Muhammad bin Husain an-naisaburi, kemudian imam abul hasan bin ali bin Muhammad al-mawardi, ibnu qoyyim dan jalaluddin ash-shuyuti

B. Unsur-unsur amtsalul qur’an

Sebagian ulama mengatakan, bahwa amtsal memiliki empat unsure, yaitu :

  1. وجه شبه (Wajah syabah) : segi perumpamaan
  2. اداة التشبه (Adatuttasybih) : alat yang digunakan untuk mengumpamakan
  3. مشبه (Musyabbah) : yang diserupakan
  4. مشبه به (Musyabbahbih) : sesuatu yang dijadikan perumpamaan

Contoh pada firman allah SWT dalam al-qur’an surat al-baqarah ayat 261 :

ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& ’Îû È@‹Î6y™ «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y™ Ÿ@Î/$uZy™ ’Îû Èe@ä. 7’s#ç7/Yߙ èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o„ 3 ª!$#ur ììřºur íOŠÎ=tæ ÇËÏÊÈ

261. perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.

Wajah syabah yang terdapat dalam ayat ini adalah “ pertumbuhan yang berlipat ganda “, adatut tasybihnya adalah  kata matsal “@sVyJx., Musyabbahnya adalah nafkah / shadaqah dijalan allah, sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.

C. Macam-macam amtsal dalam al-qur’an

Amtsal dalam al-qur’an tebagi kepada 3 macam, yaitu :                                                                    1. Amtsal Musarrahah, adalah yang didalamnya dijelaskan dengan lafadz masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amsal seperti ini banyak ditemukan dalam al-qur’an, antara lain;

QS. Al-Baqarah ; 17-20

Nßgè=sVtB È@sVyJx. “Ï%©!$# y‰s%öqtGó™$# #Y‘$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=ydsŒ ª!$# öNÏd͑qãZÎ/ öNßgx.ts?ur ’Îû ;M»yJè=àß žw tbrçŽÅÇö6ムÇÊÐÈ   BL༠íNõ3ç/ ґôJãã öNßgsù Ÿw tbqãèÅ_ötƒ ÇÊÑÈ   ÷rr& 5=ÍhŠ|Áx. z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÏmŠÏù ×M»uKè=àß Ó‰ôãu‘ur ×-öt/ur tbqè=yèøgs† ÷LàiyèÎ6»|¹r& þ’Îû NÍkÍX#sŒ#uä z`ÏiB È,Ïãºuq¢Á9$# u‘x‹tn ÏNöqyJø9$# 4 ª!$#ur 8݊ÏtèC tûï̍Ïÿ»s3ø9$$Î/ ÇÊÒÈ   ߊ%s3tƒ ä-÷Žy9ø9$# ß#sÜøƒs† öNèdt»|Áö/r& ( !$yJ¯=ä. uä!$|Êr& Nßgs9 (#öqt±¨B ÏmŠÏù !#sŒÎ)ur zNn=øßr& öNÍköŽn=tæ (#qãB$s% 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# |=yds%s! öNÎgÏèôJ|¡Î/ öNÏd̍»|Áö/r&ur 4 žcÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇËÉÈ

Artinya ; ”Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api , Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta , Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang- orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya. karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati . dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

2. Amtsal Kaminah, yaitu yang didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafadz tamsil (pemisalan), tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada orang yang serupa dengannya. Untuk masal ini mereka mengajukan sejumlah contoh, diantaranya ;

a. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan : sebaik-baik urusan adalah pertengahannya, yaitu ;

 (#qä9$s% äí÷Š$# $uZs9 y7­/u‘ ûÎiüt7ム$uZ©9 $tB }‘Ïd 4 tA$s% ¼çm¯RÎ) ãAqà)tƒ $pk¨XÎ) ×ots)t/ žw ÖÚ͑$sù Ÿwur íõ3Î/ 8b#uqt㠚ú÷üt/ y7Ï9ºsŒ ( (#qè=yèøù$$sù $tB šcrãtB÷sè? ÇÏÑÈ

Artinya ; mereka menjawab : ”mohonkanlah kepada tuhanmu untuk kami, agar dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: ”sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu, maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. QS. Al-Baqarah ; 68

b. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan ; kabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri, hal ini sama seperti firman Allah SWT ;

øŒÎ)ur tA$s% ÞO¿Ïdºtö/Î) Éb>u‘ ‘ÏR͑r& y#ø‹Ÿ2 Ǒósè? 4’tAöqyJø9$# ( tA$s% öNs9urr& `ÏB÷sè? ( tA$s% 4’n?t/ `Å3»s9ur £`ͳyJôÜuŠÏj9 ÓÉ<ù=s% ( tA$s% õ‹ã‚sù Zpyèt/ö‘r& z`ÏiB Ύö©Ü9$# £`èd÷ŽÝÇsù y7ø‹s9Î) ¢OèO ö@yèô_$# 4’n?tã Èe@ä. 9@t6y_ £`åk÷]ÏiB #[ä÷“ã_ ¢OèO £`ßgãã÷Š$# y7oYÏ?ù’tƒ $Š÷èy™ 4 öNn=÷æ$#ur ¨br& ©!$# ͕tã ×LìÅ3ym ÇËÏÉÈ

Artinya ; Dan (ingatlah) ketika ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana menghidupkan orang mati”. Allah berfirman: “belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab : “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman ; (kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semua olehmu. (Allah berfirman) : ”lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. Al-Baqarah ; 260

c. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan ; sebagaimana kamu telah berhutang, maka kamu akan bayar), misalnya ;

`tB ö@yJ÷ètƒ #[äþqߙ t“øgä† ¾ÏmÎ/ Ÿwur ô‰Ågs† ¼çms9 `ÏB Èbrߊ «!$# $wŠÏ9ur Ÿwur #ZŽÅÁtR ÇÊËÌÈ

Artinya ; “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatannya itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah”. QS. An-Nisa’ ; 123

d) Ayat-ayat yang senada dengan perkataan ; ﺎَﻟ ُﻍَﺪْﻠَﻳ ُﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ٍﺮْﺤُﺟ ِﻦْﻴَﺗَّﺮَﻣ (orang mukmin tidak akan disengat tiga kali dari lubang yang sama), misalnya firman Allah melalui lisan Ya’qub ;

 $£Jn=sù (#þqãèy_u‘ #’n<Î) óOÎg‹Î/r& (#qä9$s% $tR$t/r’¯»tƒ yìÏZãB $¨ZÏB ã@øŠs3ø9$# ö@řö‘r’sù !$oYyètB $tR$yzr& ö@tGò6tR $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»yss9 ÇÏÌÈ

Artinya ; Maka tatkala mereka kembali kepada ayah mereka (Ya’qub) mereka berkata : ”Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan sesungguhnya kami benar- benar akan menjaganya. QS. Yusuf ; 63

3. Amtsal Mursalah, yaitu kalimat- kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz tasybih secara jelas. Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai matsal. Adapun contohnya sebagai berikut :

a.     ’’.. ÈysóÁymz`»t«ø9$#…” Artinya : ”Sekarang ini jelaslah kebenaran itu.” (Penggalan dari QS. Yusuf ; 51)

b.§øŠs9 $ygs9 `ÏB Èbrߊ «!$# îpxÿÏ©%x.  ” Artinya ; ”Tidak ada yang Akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah.” (QS. An- Najm ; 58)

c.     ”… 5=ƒÌs)Î/ }ßxö6Á9$#§øŠs9r&” Artinya ; ”Bukankah subuh itu sudah dekat?.” (QS. Hud ; 81)

yang mereka namakan amtsal mursalah ini, apa atau bagaimana hukum mempergunakannya sebagai matsal. Sebagian ahli ilmu memandang hal demikian telah keluar dari adab Qur’an. Berkata ar- Razy ketika menafsirkan ayat Èûïϊ لىur ö/ä3ãYƒÏŠ ö/ä3s ل‘’untukmulah agamamu,dan untukku agamaku.” (QS. Al- Kafirun ; 6) ; Sudah menjadi tradisi orang, menjadikan ayat ini sebagai matsal (untuk membela, membenarkan perbuatannya). Ketika ia harus meninggalkan agama, padahal hal demikian tidak dibenarkan. Sebab Allah menurunkan al-Qur’an bukan untuk dijadikan matsal, tetapi untuk direnungkan dan kemudian diamalkan isi kandungannya”.

D.   FAEDAH-FAEDAH AMTSAL

Ada beberapa faedah dalam ilmu amtsalul qur’an, yaitu :

1. Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami oleh indera manusia.

2. Menyingkapkan hakikat dari mengemukakan sesuatu yang tidak nampak menjadi sesuatu yang seakan – akan nampak, contoh :

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz

Artinya ; “Orang – orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang- orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni- penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” QS. Al-Baqarah: 275

3. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam ungkapan yang padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat-ayat di atas.

4. Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal

5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif

6. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya.

7. Memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya.

E. MEMBUAT MATSAL DENGAN AL- QUR’AN

Telah menjadi tradisi para sastrawan, menggunakan amtsal di tempat-tempat yang kondisinya serupa atau sesuai dengan isi amtsal tersebut. Jika hal demikian dibenarkan dalam ucapan-ucapan manusia yang telah berlaku sebagai matsal, maka para ulama tidak menyukai penggunaan ayat-ayat al-quran sebagai matsal. Mereka tadak memandang perlu bahwa orang harus membacakan suatu ayat amsal dalam kitabullah ketika ia menghadapi suatu urusan duniawi. Hal ini demi menjaga keagungan al-quran dan kedudukannya dalam jiwa orang- orang mu’min.Abu ’Ubaid berkata, ”Demikianlah, seseorang yang ingin bertemu dengan sahabatnya atau ada kepentingan dengannya, tiba-tiba sahabat itu datang tanpa diminta, maka ia berkata kepadanya secara humor ; ”kamu datang menurut waktu yang ditetapkan wahai Musa, (QS taha  ; 40), perbuatan demikian merupakan penghinaan terhadap al- Qur’an. ”Ibnu Syihab as-Zuhri berkata, ”janganlah kamu menyerupakan (sesuatu) dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah.” maksudnya, kata Abu Ubaid, janganlah kamu menjadikan bagi keduanya sesuatu perumpamaan, baik berupa ucapan ataupun perbuatan.

                                                                                                                       BAB III 

                                                                                                                   PENUTUP 

 

 

  1. KESIMPULAN

Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan – perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya perumpamaan itu tidak selalu membuat manusia mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena memang tidaklah mudah untuk memahami suatu perumpamaan. Kita perlu ilmu untuk memahaminya. Amtsal Qur’an penting untuk memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal, menghindarkan diri dari perbuatan negatif. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Dalam Al- Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya. Amtsal juga memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam wadah nilai-nilai universalnya amtsal al-qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s